Kamis, 11 Desember 2008

JALAN SUNYI

Akhirnya kutempuh jalan yang sunyi
Mendengarkan lagu bisu sendiri di lubuk hati
Puisi yang kusembunyikan dari kata - kata
Cinta yang tak kan kutemukan bentuknya

Apabila kau dengar tangis di saat lengang
Kalau bulan senyap dan langit meremang
Sesekali temuilah detak - detik pelaminan ruh sepi hidupku
Agar terjadi saat saling mengusap peluh dendam rindu

Kuanyam dari dan malam dalam nyanyian
Kerajut waktu dengan darah berlarut - larut
Tak habis menimpukku batu demi batu kepalsuan
Demi mengongkosi penantian ke Larut

Sebuah Keinginan yang Tak Akan Pernah Dikabulkan


Kala hari yang terang digantikan oleh malam yang gelap, kala hujan yang suram tiba menggantikan sinar matahari yang abadi, dan saat langit gelap menutupi kilauan cahaya bintang-bintang yang lembut, bernafaslah aku dalam sebuah ruangan redup. Menghabiskan tiap detik demi sebuah keinginan yang aku tahu tak akan pernah dikabulkan oleh siapa pun.
Hanya sebuah keinginan yang mungkin bagi dunia yang kelam ini tiada artinya. Aku hanya ingin tetap dapat menggenggam pena hitamku dan menggoreskanya dengan lembut di atas sebuah secarik kertas. Aku hanya ingin terus merangkai kata demi kata tanpa mengenal kata henti. Aku hanya ingin terus terbang melayang di ujung luar angkasa tertinggi dan menyelamkan jiwaku yang tak berarti ini ke dalam ujung samudra terdalam yang ada. Hanya itu, satu-satunya yang paling aku inginkan.
Oh, matahari yang agung maukah engkau mendengarkan permohonanku ini? Wahai rembulan yang selalu bersinar dengan lembutnya di dalam kegelapan mencekat maukah engkau menjawab permintaanku? Dan waktu, maukah engkau mengabulkan sebuah permohonanku yang tak berharga ini?
Wahai waktu yang mengalir tiada henti bagai aliran air sungai yang terus mengalir abadi, maukah engkau menghentikan aliranmu yang maha indah itu sedetik saja untukku? Duhai matahari yang maha agung, sudikah engkau terus bersinar dengan cahayamu yang luar biasa dahsyat itu demi satu-satunya permohonanku ini? Sudikah engkau terus menyinari ruanganku yang gelap itu? Sudikah engkau membiarkanku merangkai kata demi kata dengan pena tuaku? Dan rembulan yang maha indah, maukah engkau menemaniku dengan cahayamu yang lembut itu?
Walau pun aku tahu semua itu tidak pernah akan dikabulkan sedetik pun. Tapi demi seluruh nafas-nafas yang pernah berhembus di dunia ini, waktu yang agung biarkanlah aku terus menyelam dalam dunia imajinasi terdalam dan biarkanlah aku terbang dalam awan-awan tertinggi yang pernah ada dalam dunia imajinasi. Biarkanlah aku sampai darahku yang kental ini berhenti mengalir di dunia ini dan nafasku yang renta ini berhenti menghembus di udara.

berakhir sudah semua harap


,.......... segalanya dilakukan demi hasrat cinta. Tapi ada yang lain kurasakan, bagai beku tiada sempat mendekat lebih jauh. Dan cinta itu bukan saja telah jauh dari harapan tapi lebih jauh lagi. Dari semuanya yang di rasakan ternyata cintaku hanya sanggup untuk mengenang, berakhir sudah semua harap, berakhir sudah semua impian dan berakhir juga tanpa kisah dari kasih cinta.
:cry:
Mengenang adalah cinta, hanya untuk itu saja perlu cinta tapi ada jiwa yang besar, pada diriku aku telah menyadari lebih dalam lagi. masalaluku pernah terkoyak lalu ingatku pada dirimu, sadarkanku jalanku yang dulu gelap penuh dosa. Ada banyak kata hambar penuh ragu, tak punya ketetapan diri untuk untuk menatap sejuta binar-binar dimatamu, walaupun satu binar kudapat atau mungkin semua kudapat, tentunya ada kisah yang pernah dirasakan dari kasih cinta. Semua telah lalu tiada yang sanggup merubah waktu yang lalu-lalu, sampai kini dan nanti hanya berupa kenangan. :roll: :roll: :roll: Dan waktu bukan hanya membuat kenangan, tapi telah membuat diriku terpenjara dan hampir saja membunuh dengan senjata ketakutan pada diri sendiri, Dengan puisi aku menjadikannya perisai dari senjata waktu, sehingga aku dapat berpikir dan merenungi lebih dalam lagi. Ketika cinta diakhiri sebuah kenangan dari banyak kesalahan diri ini, tak mudah memang menghapus sesal dari yang bernoda tak bisa ditunda dan yang pasti lebih cepat menyudahi dengan segala peri penuh sedih. Sekali saja diakhiri dengan segala yang ada tetaplah membuat berjuta makna berduka dari cinta yang terkenang tak bisa ucapkan satu kata untuk mengawali meraih cinta. Hanya mengenang dan merenungi dari segala kesalahan diri, dari awal yang penuh ragu angan yang selalu beralih jauh, untuk itu aku puas mengatakan wajarlah ternyata cintaku hanya untuk mengenang dirimu. Dan mendalam lagi aku harus berkata bahwa cinta bukan untuk memiliki, cukuplah membuahkan kenangan dan seketika aku membayangmu terlintas gelap yang liar dari masalalu diriku, tapi kini aku tetap yakini akan ada cinta menanti dan datang untuk tuntaskan sepi diri ini dan sedikit mungkin menghapus kesalahan yang lalu